Panduan lengkap tentang Al-Qur'an dan sepuluh qira'at mutawatir
Al-Qur'an Al-Karim adalah kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ melalui Malaikat Jibril selama kurang lebih 23 tahun. Ia adalah kitab suci terakhir dan sumber petunjuk bagi seluruh umat manusia.
Allah sendiri telah menjamin penjagaannya: «Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya» (Al-Hijr: 9).
Wahyu mulai turun di bulan Ramadhan di Gua Hira dekat Makkah pada tahun 610 M (13 SH). Ayat-ayat pertama yang turun adalah awal Surah Al-'Alaq: «Bacalah dengan nama Tuhanmu Yang menciptakan».
Wahyu berlanjut selama kurang lebih 23 tahun — 13 tahun di Makkah dan 10 tahun di Madinah. Al-Qur'an diturunkan secara berangsur-angsur (munajjaman) sesuai peristiwa dan kondisi. Nabi ﷺ memerintahkan para juru tulis wahyu untuk mencatat setiap ayat begitu turun.
Pada masa Nabi ﷺ: Al-Qur'an ditulis di atas perkamen, tulang, pelepah kurma, dan dihafal oleh banyak sahabat. Jibril membacakan seluruh Al-Qur'an bersama Nabi setiap Ramadhan, dan mengulangnya dua kali pada tahun terakhir beliau.
Pada masa Abu Bakr (RA): Setelah banyak penghafal Al-Qur'an syahid dalam perang Yamamah (12 H), Umar mengusulkan kepada Abu Bakr agar Al-Qur'an dihimpun dalam satu mushaf. Zaid bin Tsabit ditugaskan untuk mengumpulkannya.
Pada masa Utsman (RA): Sekitar tahun 25 H, ketika wilayah Islam meluas dan muncul perbedaan bacaan, Utsman memerintahkan penyatuan mushaf dengan dialek Quraisy. Salinan dikirim ke kota-kota besar (Makkah, Madinah, Damaskus, Bashrah, Kufah) dan mushaf-mushaf lain dibakar. Mushaf Utsmani inilah yang menjadi standar hingga hari ini.
114 surah — 86 Makkiyah (turun di Makkah) dan 28 Madaniyah. Surah terpanjang adalah Al-Baqarah (286 ayat), terpendek adalah Al-Kautsar (3 ayat).
6.236 ayat menurut hitungan yang paling diterima. Ayat-ayat bervariasi panjangnya dari satu kata hingga satu paragraf penuh.
30 juz (bagian), 60 hizb (bagian kecil), dan 240 rub' (seperempat). Dibagi untuk memudahkan tilawah dan hafalan.
Urutan surah dalam mushaf bersifat tauqifi (atas perintah Nabi ﷺ) dan berbeda dari urutan turunnya wahyu.
Qira'at adalah perbedaan lafal wahyu Al-Qur'an dalam huruf atau cara pengucapannya, seperti tafkhim dan tarqiq, dan lain-lain. Ini adalah ilmu yang mempelajari cara melafalkan kata-kata Al-Qur'an dan metodenya, dengan menisbatkan setiap wajah kepada perawinya melalui sanad yang bersambung.
Ilmu ini berasal dari Nabi ﷺ yang mengajarkan Al-Qur'an kepada para sahabat dengan beberapa wajah, yang semuanya adalah wahyu dari Allah. Hadis sahih menegaskan bahwa Al-Qur'an diturunkan dalam tujuh huruf (ahruf). Para ulama kemudian mencatat qira'at ini dengan sanad yang bersambung kepada Nabi ﷺ.
Tujuh Qira'at dikumpulkan oleh Imam Abu Bakr ibn Mujahid (w. 324 H) dalam kitabnya "As-Sab'ah". Imam Ibn al-Jazari (w. 833 H) kemudian menambahkan tiga qira'at lagi dalam kitabnya "An-Nashr fi al-Qira'at al-'Ashr", sehingga menetapkan sepuluh qira'at mutawatir.
Para ulama menetapkan tiga syarat untuk menerima sebuah qira'at Al-Qur'an:
Qira'at yang memenuhi ketiga syarat ini diterima sebagai Al-Qur'an dan dapat dibaca dalam shalat. Qira'at yang gagal memenuhi salah satu syarat diklasifikasikan sebagai "syadz" (tidak mutawatir) dan tidak boleh digunakan dalam ibadah.
Qira'at Al-Qur'an ditransmisikan melalui rantai guru yang tidak terputus, disebut sanad atau isnad. Rantai ini memiliki beberapa tingkatan:
Ijazah dalam qira'at berarti seorang guru memberi izin kepada muridnya untuk meriwayatkan qira'at tertentu setelah muridnya menguasainya. Sistem ini berlanjut tanpa terputus dari masa Nabi ﷺ hingga hari ini.
Matan (jamak: mutun) adalah nazham syair pendidikan yang disusun oleh para ulama untuk memudahkan hafalan kaidah Tajwid dan Qira'at. Matan-matan ini telah menjadi tulang punggung pendidikan Al-Qur'an di halaqah dan madrasah selama berabad-abad dan masih diajarkan di seluruh dunia hingga hari ini.
Nazham pengantar paling terkenal tentang kaidah Tajwid. Mencakup hukum nun sakinah dan tanwin, mim sakinah, lam ta'rif dan lam fi'il, dan berbagai jenis mad. Biasanya ini adalah matan pertama yang dihafalkan oleh pelajar Tajwid.
يَقُولُ رَاجِي رَحْمَةِ الغَفُورِ ۞ دَوْمًا سُلَيْمَانُ هُوَ الجَمْزُورِي
Bait pembuka
Nazham komprehensif tentang kaidah Tajwid terperinci, dianggap sebagai rujukan utama setelah Tuhfatul Athfal. Mencakup makharij huruf, sifat huruf, tafkhim dan tarqiq, hukum ra dan lam, waqf dan ibtida, serta rasm Al-Qur'an. Tidak ada qari yang menerima ijazah tanpa menguasai matan ini.
يَقُولُ رَاجِي عَفْوِ رَبٍّ سَامِعِ ۞ مُحَمَّدُ بْنُ الجَزَرِيِّ الشَّافِعِي
Bait pembuka
Nazham terbesar tentang Tujuh Qira'at Mutawatir. Disusun dengan bahr thawil, menyusun dengan indah qira'at-qira'at variatif dari tujuh qari dan para rawinya. Tetap menjadi batu fondasi studi Qira'at di seluruh dunia — para ulama mengatakan: siapa yang menguasai Asy-Syathibiyyah, ia menguasai Tujuh Qira'at.
بَدَأْتُ بِبِسْمِ اللهِ فِي النَّظْمِ أَوَّلَا ۞ تَبَارَكَ رَحْمَانًا رَحِيمًا وَمَوْئِلَا
Bait pembuka
Pelengkap Asy-Syathibiyyah, mencakup tiga qira'at tambahan yang melengkapi sepuluh: Abu Ja'far al-Madani, Ya'qub al-Hadrami, dan Khalaf al-Bazzar. Disusun dengan bahr dan metodologi yang sama seperti Asy-Syathibiyyah agar menjadi kelanjutan alaminya.
الحَمْدُ للهِ الَّذِي أَعْلَى القُرَا ۞ وَأَنْزَلَ القُرْآنَ لِلنَّاسِ قُرَا
Bait pembuka
Nazham paling komprehensif tentang sepuluh qira'at dengan berbagai thariq-nya. Menyatukan kesepuluh qira'at dalam satu karya (menggantikan Asy-Syathibiyyah dan Ad-Durrah sekaligus), dengan tambahan wajah dan thariq yang tidak ditemukan di keduanya. Ibn al-Jazari menyusunnya sebagai ringkasan berbait dari kitab besarnya 'An-Nashr fi al-Qira'at al-'Ashr'.
أَقُولُ حَمْدًا لِلْإِلَهِ ذِي الطَّوْلِ ۞ مُصَلِّيًا عَلَى النَّبِيِّ وَالْآلِ
Bait pembuka
Matan Tajwid modern
Di samping matan klasik, karya-karya didaktik modern telah bermunculan untuk menyederhanakan kaidah Tajwid. Banyak syarah (komentar) dan ringkasan matan klasik juga disusun agar lebih mudah diakses oleh pelajar kontemporer.